Go to Top

Bullying at the Office – By Lita Mucharom

Kadangkala di kalangan karyawan bahkan di kalangan manajer sekalipun sering terjadi kasus bullying. Yang melakukan biasanya mencari teman agar bullying yang dia tujukan menjadi lebih mengena ke korban. Orang-orang yang bersekongkol melakukan bullying ini biasanya adalah kelompok barisan sakit hati. Mereka merasa tidak puas dengan manajemen dan merasa cemburu dengan rekan kerjanya yang tidak setuju dengan mereka. Bullying juga bisa dilakukan karena kelompok karyawan tersebut adalah kaum senioritas yang merasa terancam dg kehadiran orang baru.

Contoh yang paling ringan adalah melemparkan kata-kata tajam yang menyakitkan berulang kali pada satu korban dilakukan oleh beberapa orang. Contoh lain seperti mengucilkan, menyerang di forum besar, menjegal karir, memfitnah/gossip negatif, menghina, dll. Contoh yang paling parah adalah memukul teman kerja bahkan ada juga yang tega menggunakan senjata tajam.

Intinya bullying adalah perlakuan tidak menyenangkan bahkan kriminal yg dilakukan oleh sekelompok karyawan pada karyawan lain. Bullying terjadi jika toxic employee tidak ditangani dengan bijak dan dibiarkan virus tersebut menyebar. Maka disarankan untuk segera melakukan “isolasi” terhadap karyawan bermasalah/toxic, harus dicarikan solusinya. Jika karyawan toxic teridentiikasi di awal, maka lakukan conselling untuk memahami permasalahan dia sebenarnya. Jika masih dapat dicarikan solusi bersama, maka libatkan dia dalam mencari solusi, membuat komitmen perubahan serta pelaksanaannya.

Tidak semua toxic employee dapat di sembuhkan, namun sebaliknya tidak semua toxic employee itu harus disingkirkan segera. Jika ternyata ada gap yang besar antara harapan si toxic dengan yang bisa diberikan oleh perusahaan, ya mungkin solusinya adalah berpisah. PHK/berpisah untuk kedua belah pihak akan menjadi lebih sehat karena si toxic mungkin akan menemukan habitat dia yang sebenarnya.

Kadang toxic employee juga berawal dari “salah pilih” dalam proses seleksi. Karakter/sikap kerja kandidat diabaikan karena fokus pada kompetensi dll. Sementara jika kondisi bullying ini sudah terlalu bermasalah dan virus sudah terlanjur menyebar, maka perlu penanganan berbeda. Yang jelas kalau hal ini terjadi, sebagai pemimpin kita harus tegas dan berani kehilangan karyawan kompeten namun sikap kerjanya buruk.

Jika bullying tingkat rendah terjadi, minimal kita harus tegus secara lisan. Karyawan dipanggil terpisah dan ditegur. Karyawan harus mendapatkan feedback sisi buruknya yang sudah dia lakukan dan meminta untuk dia berjanji memperbaiki. Biasanya hal ini sulit, sikap yg buruk sgt sulit diperbaiki. Untuk itu secara parallel kita juga harus panggil yang di bully dan menghiburnya.

Sebelum karyawan yang baik hengkang sementara yang doyan bullying beraksi kembali, sebaiknya segera mencari pengganti. Mencari pengganti untuk posisi si karyawan tukang bully kuga untuk karyawan yang di bully karena salah satu pasti pergi. Jika bullying masuk kategori parah, maka sebaiknya langsung SP3 disertai skorsing untuk perbaiki sikap. Berita acara perlu dibuat.
Jika bullying ini masuk ranah kriminal, maka kitapun boleh melaporkan ke polisi agar ditindak pidana dan kita bisa langsung PHK. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>